Iklan

Iklan

Ini Alasan Warga Kampung di Demak Tetap Pertahankan Gowes di Tengah Badai Corona

JKC saat beristirahat di Rowo Tanjung Park. 


DEMAK,BOLOMOE.com  – Pandemi Covid 19 sudah hampir menyentuh hitungan tahun. Badai virus corona yang menghantam dunia dan melumpuhkan sendi sendi kehidupan di semua bidang. Ekonomi lumpuh, kehidupan sosial guncang disebabkan kebijakan pembatasan aktivitas publik. Para pekerja kantoran dan anak sekolahan masih bisa menunaikan tugas dari rumah secara daring. Tetapi para pekerja lepas, para pedagang dan profesi lain banyak yang tak bisa berkutik karena kebijakan tersebut.  Akhirnya, rumah menjadi satu satunya tempat ‘teraman’ untuk berlindung dari carut marutnya hidup karena pandemi ini. Tetapi, makin lama hidup makin terasa sesak sebab kita tak terbiasa menghabiskan waktu di kediaman sendiri. ‘Gabut’ menjadi Istilah yang menjadi tren di kalangan milenial untuk menggambarkan kondisi semacam ini.  

Karena pada dasarnya, manusia sebenarnya dibekali dengan semangat survival, maka muncullah ide ide dan kreasi guna menangkal gabut tersebut. Terbukti sudah beberapa bulan, mulai marak tren tren yang bertebaran dan tumbuh subur layaknya jamur di musim penghujan. Ada tren rapat menggunakan aplikasi zoom,  jualan online, bertanam dalam pot, sepedaan ,dan sebagainya.

Berbicara tentang tren sepedaan, di kampung saya ternyata ada semacam klub pengayuh sepeda yang anggotanya mulai dari balita hingga usia senja. Tadinya saya menyebut mereka karena saya tak ikut ikutan tren gowes jadi saya sebut mereka_ sebagai klub pit pitan Gebyok karena kampung saya ini memang bernama Gebyok dan berada di Kawasan RT 4 RW 2 Desa Karangsari Kecamatan Karangtengah Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Tetapi Ketika dicermati melalui media sosial rupanya mereka punya label sendiri yakni JKC.

Menurut Sekretaris Desa Karangsari, Puji Ramadhan, yang juga salah satu anggota klub, saat diwawancarai Minggu (4/10/2020)perkumpulan gowes yang digawangi oleh Agus manto,Ngademo dan Eko Sulistyawan ini adalah bentuk silahturahmi sosial warga dikemas dengan kegiatan olahraga yaitu sepeda.

Rute bersepeda mereka biasanya berganti ganti tiap minggu, tetapi prioritas memang jajah desa milang kori  atau bisa diungkap secara singkat menjadi touring ke desa desa. Selama ini, tempat terjauh yang sudah dikunjungi melalui kegiatan gowes baru di wilayah Kabuaten Grobogan yakni di Mrapen dan Kali Sunut.

Berdasarkan cerita cerita para anggota klub pit pitan Gebyok ini, semua anggota betul betul menikmati kebersamaan. Mereka tetap bisa berkumpul dengan menggunakan siasat protokol kesehatan. 

Saya hanya bisa berpikir memang betul pepatah dan nasihat para tetua, taka da masalah tanpa solusi. Maka di tengah kebijakan pembatasan sosial dan fisikal yang mana akan terlalu kentara Ketika kumpul di satu titik, maka lebih baik kumpul dengan tetangga dengan kemasan yang berbeda.

Salam sehat! Jangan lupa Bahagia ! Be survival ! 

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh wibs24. Diberdayakan oleh Blogger.