Iklan

Iklan

Cerita Pengrajin Bonkla, Tetap Optimis di Kala Pandemi



Agus Supriyadi merawat bonsai kelapanya yang ia budidayakan di kawasan hutan Kota Semarang, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (31/7/2021).

SEMARANG,BOLOMOE.com -  Sudah setahun lebih Pandemi Covid-19 melanda di berbagai belahan dunia  tak terkecuali Indonesia. Pembatasan kegiatan pada situasi ini membuat masyarakat kelimpungan. Rakyat merasakan beban hidup yang kian menjerat. Ekonomi carut-marut ditandai dengan bisnis yang modalnya kian tipis. Dagangan jadi sepi pembeli.

Kondisi semacam ini tapi tak membuat Agus Supriyadi (44) menjadi patah arang. Warga Lamper Tengah Kota Semarang ini berusaha mencari peluang usaha yang sekiranya bisa tetap mendapat perhatian di masa sulit sekarang ini.

Jadi, ia pun melabuhkan usahanya pada budi daya tanaman bonsai kelapa. Ia memiliki dasar pertimbangan saat memulai bisnis tersebut. Di masa pandemi ini banyak sekali orang yang terpaksa harus bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Tentunya perlu setting yang mendukung di rumah masing-masing agar tercipta suasana kerja yang tidak membosankan. Salah satunya dengan desain eksterior atau interior yang sesuai selera.

Agus berkeyakinan bonsai kelapa menjadi salah satu pilihan pernak pernik untuk dekorasi ruang. Bonsai kelapa atau bonkla yang dibudidaya biasanya berjenis kelapa gading merah, kelapa gading susu dan kelapa albino.

Tetapi Saat ini para pembeli ataupun rekan-rekan lebih mengenal jenis bonkla di lokasi usahanya dengan sebutan bonkla gading, bonkla sayur hijau, orange, kuning dan cokelat. Penyebutan tersebut sesuai dengan bentuk dan warna bonkla hasil budidaya Agus.

Pilihan pembeli pada bonkla biasanya sesuai selera masing-masing. Ada yang menyukai jenis bonkla cabang kembar, ada pula yang lebih memilih jenis bonkla nungging atau melayang. Bonkla cabang kembar konon menjadi salah satu komoditas terlaris pada bisnis Agus karena ada anggapan jika memiliki bonkla ini akan mendatangkan lebih banyak rejeki. 

Sedangkan jenis bonkla nungging atau melayang memang dibentuk sedemikian rupa agar batok kelapa yang ditopang oleh akar serabut terlihat di luar media tanam. Untuk media tanam Agus menggunakan tanah dan sekam serta pupuk pilihan. Ada pula bonkla yang dibudidayakan dalam media tanam air dan batu-batu hias.

Sesuai dengan sejarah awal, bonsai memang sebuah seni pengerdilan tanaman yang dipopulerkan oleh masyarakat Jepang meski konon kabarnya perintis awalnya adalah rakyat China. Bonsai menjadi menarik karena bernilai seni tinggi. Mulai dari pemilihan bibit hingga pembentukan tanaman sesuai keinginan si pembudidaya tergantung pada bagaimana bakat seni yang dimilikinya. Pria yang memulai usaha sejak Oktober 2020 ini juga optimis usahanya akan tetap berjalan stabil.

"Insyaallah akan tetap bertahan. Sebab bahan mudah didapat, segmentasi pasar bonsai kelapa masih terbuka luas,” tutur Agus saat ditemui di kawasan hutan Kota Semarang, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (31/7/2021).

Selain mendatangkan bahan baku tanaman  dari berbagi daerah di Jawa Tengah, kini Agus juga mulai membuat pembibitan sendiri. Hingga kini, Agus telah memiliki ratusan tanaman bonsai kelapa dari berbagai jenis, bentuk, dan ukuran. Untuk harga bonkla ia membanderol harga Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu.

Meski di masa pandemi Covid-19, Agus merasa tak lagi terbebani secara ekonomi. Ia dan keluarganya kini makin berdikari. Dan sebagai salah satu wujud rasa syukur, Agus ingin berbagi ilmu tentang tanaman bonsai kepada siapa saja yang mau berkunjung ke lokasi usahanya di TBRS Semarang Jateng.

"Ilmunya gratis, hanya kami menyediakan bibit mulai dari Rp 20 ribu," tutup Agus.(AB)

Tidak ada komentar

Gambar tema oleh wibs24. Diberdayakan oleh Blogger.